Penundaan Acara In Action PAKEM dan Rubrik Penilaian

Bapak/Ibu Guru Bahasa Indonesia SMP dan MTs di Kota Bogor, rencananya pada hari Senin tanggal 30 November 2009 kami akan mengadakan in action PAKEM dan Rubrik Penilaian di SMP Negeri 8 Bogor. Namun karena ada upacara hari Guru dan Korpri yang harus diikuti oleh semua guru di Kota Bogor, acara tersebut ditunda ke waktu yang lain. Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya atas perubahan tersebut.

Terima kasih,

Pengurus MGMP

Add comment November 24, 2009

Syarat Penyusunan Paragraf

Oleh Masnur Muslich

(Tenaga edukatif di Jurusan Sastra Indonesia Universitas Negeri Malang)

Paragraf yang baik menuntut adanya prisip-prinsip (1) kesatuan, (2) kepaduan, dan (3) pengembangan. Kesatuan menunjukkan pengertian bahwa kalimat-kalimat yang ada dalam paragraf mendukung satu tema/pikiran. Kepaduan mengacu kepada hubungan yang harmonis antarkalimat dalam paragraf, sedangkan pengembangan mengacu kepada teknik penyusunan gagasan-gagasan dalam paragraf.

a. Kesatuan
Pembicaraan tentang kesatuan dalam paragraf menyangkut pembicaraan tentang gagasan utama dan gagasan tambahan. Keduanya menampak pada kalimat utama dan kalimat penjelas. Posisi kalimat utama dan dan kalimat penjelas tidak selalu tetap. Kalimat utama dapat mengambil posisi di awal paragraf, di akhir paragraf, di awal dan akhir paragraf sekaligus, atau di seluruh kalimat dalam paragraf.

1)Paragraf Deduktif
Contoh:
Sebagai telah penulis katakan di depan, sebuah karangan argumentasi dikembangkan dalam dua kemungkinan cara, yakni cara induktif dan cara deduktif. Dalam cara induktif, pengarang memulai dari suatu kenyataan ke kenyataan lainnya dan mengakhirnya dengan suatu generalisasi. Sebaliknya, cara deduktif akan bermula dengan satu generalisasi, yaitu satu anggapan umum, lalu mencari bukti-bukti dan kenyataan-kenyataan untuk membenarkannya. Dalam penulisan dua cara ini harus dilakukan dengan seimbang dan saling mengisi.

2) Paragraf Induktif
Contoh:
Agar komunikasi terjadi dengan baik, kedua belah pihak memerlukan bahasa yang bisa dipakai dan dipahami bersama. Wujud bahasa yang utama adalah bunyi. Bunyi-bunyi itu dapat disebut bunyi bahasa jika dihasilkan oleh alat bicara manusia. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa bunyi bahasa itu sebagai alat pelaksana bahasa

3) Paragraf Repetitif
Contoh:
Fonemisasi merupakan prosedur atau cara menemukan fonem-fonem yang ada dalam suatu bahasa. Karena bunyi bahasa banyak sekali jumlahnya, fonemisasi tidak berusaha untuk mencatat semua bunyi yang ditemukan. Tentunya, fonemisasi merupakan prosedur menemukan bunyi-bunyi yang berfungsi dalam rangka pembedaan arti.

4) Paragraf Deskriptif
Contoh:
Pintu cendela dan rumah tetap tertutup. Cahaya lampu tiada tampak. Kesempatan beristirahat setelah sesiang tadi bekerja keras di sawah, dipergunakan sebaik-baiknya oleh penghuninya

b. Kepaduan
Kepaduan sebuah paragraf dapat didukung oleh beberapa cara: (1) pengulangan kata-kata kunci, (2) pemakaian kata ganti tertentu, dan (3) pemakaian kata-kata transisi.

1) Pemakaian Kata Kunci
Contoh:
Karena bunyi bahasa yang dihasilkan oleh alat bicara kita itu banyak ragamnya, bunyi-bunyi itu dikelompokkan ke dalam unit-unit yang disebut fonem. Fonem inilah yang dijadikan objek penelitian fonemik. Jadi, tidak seluruh bahasa yang bisa dihasilkan oleh alat bicara dipelajari oleh fonemik. Bunyi-bunyi bahasa yang fungsionallah yang menjadi bagian fonemik

2) Pemakainan Kata Ganti Tertentu
Contoh:
Dialog utara selatan tidak dapat dipisahkan dari krisis ekonomi dunia dan juga tidak dapat ditunda untuk memberikan perhatian kepadanya sampai krisis tersebut dipecahkan dan penyembuhan sudah berjalan. Di dalam lampiran, kami membuat usulan untuk menyuntikkan tujuan baru di dalam dialog itu. Inilah suatu urgenisasi yang baru diperoleh. Situasi menyedihkan akan dihadapi negara-negara dan interpedensi yang dramatik antara Utara dan Selatan di dalam bidang-bidang seperti perdagangan dan keuangan membuatnya menjadi jelas. Akan tetapi, resensi ekonomi global dan kemacetan dialog Utara-Selatan saling memperkuat satu sama lain, dan dialog menjadi mati dan tidak produktif. Bagaimana lingkaran setan ini bisa dipecahkan?

3) Pemakaian Kata-Kata Transisi
Agar perpindahan dari kalimat satu ke kalimat berikutnya mengalir dengan baik, tidak jarang digunakan kata sambung atau konjungsi. Secara umum kata sambung dibedakan ke dalam beberapa kategori:(1) kata sambung intrakalimat, (2) kata sambung antarkalimat, (3) kata sambung antarparagraf.

Yang termasuk kata sambung jenis ini adalah dan, atau, yang, tetapi, sesudah, setelah, sebelum, sehabis, sejak, selesai, ketika, tatkala, sewaktu, sementara, sambil, seraya, selagi, selama, sehingga, sampai, jika, kalau, asal(kan), bila, manakala, andaikan, seandainya, umpamanya, sekiranya, agar, supaya, biar, biarpun, meski(pun), sekalipun, walau(pun), sungguhpun, kendati(pun), seolah-olah, seakan-akan, sebagaimana, seperti, sebagai, laksana, sebab, oleh karena, (se)hingga, sampai, maka, bahwa, dengan, baik … maupun …, demikian … sehingga, apakah … atau …., entah …, jangankan …, …. pun ….

Kata sambung antarkalimat menghubungkan satu kalimat dengan kalimat yang lainnya. Karena kata sambung ini selalu mengawali kalimat, penulisannya selalu diawali dengan huruf kapital. Yang termasuk ke dalam jenis ini adalah biarpun demikian, biarpun begitu, sekalipun, begitu, sungguhpun demikian, meskipun begitu, meskipun demikian, sesudah itu, setelah itu, selanjutnya, tambahan pula, lagi pula, selain itu, sebaliknya, sesungguhpun, malah (an), bahkan, akan tetapi, namun, kecuali itu, dengan demikian, oleh karena itu, oleh sebab itu, dan sebelum itu.

Kata sambung antarparagraf menghubungkan satu paragraf dengan paragraf yang lain. Kata sambung ini mengawali sebuah paragraf. Hubungan dengan paragraf sebelumnya berdasarkan makna yan terkandung dalam paragraf sebelumnya. Yang termasuk kata sambung jenis ini adalah dalam hubungan ini, dalam pada itu, berbeda dengan itu, adapun,sebagai perbandingan, dan sebagainya.

Contoh:
Dalam hubungan ini, jelaslah bahwa perencanaan sangat erat hubungannya dengan filsafat yang dianut oleh suatu negara, terutama perencanaan di bidang sosial. Hal ini berlaku pula untuk perencanaan komunikasi. Usaha utama dalam perencanaan komunikasi adalah mengelola proses penyesuaian diri dan berusaha memenuhi kebutuhan (komunikasi) dari sebanyak mungkin pihak, yang seringkali bertentangan dalam sistem dan dalam bidang kepentingannya. Sebagai akibatnya kontrol dan pengorganisasiannya akan meningkat. Hal ini akan memudahkan peramalan tingkah laku sosial, tetapi merupakan bahaya untuk kebebasan mengeluarkan pendapat. Dengan demikian, perencanaan dalam bidang komunikasi perlu diadakan secara terbatas pula.

c. Pengembangan Paragraf

a. Urutan Waktu
Contoh:
Pada suatu ketika Dewa Matahari terhina oleh perbuatan salah satu saudaranya, lalu mengasingkan diri ke sebuah gua membiarkan bumi dalam keadaan gelap gulita. Dewa itu mengirim cucunya, Niningi-No-Mikoto, untuk menjalankan pemerintahan di bumi, mendarat di pulau. Ia membawa serta permata, sebilah pedang dan sebuah cermin dari neneknya. Niningi-No-Mikoto mempunyai cucu dan itulah Jimu Tenno, Kaisar pertama yang memerintah Jepang

b. Urutan Ruang
Contoh:
Bulan bertengger di atas rumah ini. Sinarnya yang lembut menyentuh dedaunan memahatkan bayang-bayang semacam ukiran di tanah yang dingin. Penghuni rumah itu telah lelap. Begitu pula keadaan di rumah itu. Semua pintu dan jendela terkunci rapat, serapat mata penghuni yang terkatup karena nyenyaknya. Di luar pepohonan mandi cahaya, bunga kaca piring lebih putih kelihatannya, sedang daun-daun Beringin Jepang yang keperak-perakkan bergerak pelan. Rumah itu manis sekali kelihatannya, semanis Sinta Sasanti serta adik-adiknya, anak-anak keluarga Rosena

c. Contoh-Contoh
Contoh:
Fonem vokal tunggal /i/, yang tergolong vokal depan, tinggi, dan terentang, memiliki distribusi lengkap. Dikatakan demikian karena fonem ini dapat berada pada posisi awal kata (inisial), tengah kata (medial), dan akhir kata (final). Pada inisial fonem /i/ terdapat pada ibu, insan, dan ikan, misalnya. Contoh pada medial adalah sibuk, bisa, dan kilah, sedangkan pada posisi final dapat diambil contoh-contoh sapi, kami, dan mati

d. Perbandingan
Contoh:
Dalam tatabahasa tradisional dikenal bentuk kalimat aktif dan pasif. Pada kalimat aktif, subjek kalimat melakukan suatu tindakan/aktivitas. Sebaliknya, pada kalimat pasif, subjek kalimatnya dikenai/menderita sesuatu. Predikat pada kalimat aktif pada umumnya berawalan me- atau ber-, sedangkan pada kalimat pasif berawalan di- atau ter-
e. Analogi
Contoh:
Anak adalah bunga hidup. Anak adalah keharum-haruman rumah tangga. Anak adalah pelerai demam. Kepada anak bergantung pengharapan keluarga di kemudian hari. Dialah ujung cita-cita dalam segenap kepayahan. Misalnya terjadi perselisihan dalam rumah, namun perselisihan itu bisa didamaikan apabila suami istri sama-sama melihat anaknya yang masih suci itu, yang tidak boleh turut menjadi korban karena pertengkaran dan perselisihan ayah bundanya. Sebab itu, Nabi SAW sangat besar pengasihnya kepada anak-anak. Sampai punggungnya diperkuda-kuda oleh anak-anak sedang ia sembayang. Sampai anak-anak dipangkunya sedang ia mengerjakan ibadah itu. Apabila hendak sujud diletakkannya itu di sampingnya dan bila ia hendak tegak dipungutnya balik

f. Hubungan Sebab Akibat
Contoh:
Krisis Meksiko pada musim panas tahun1982 cukup memberikan bukti besar tentang fakta adanya saling ketergantungan. Kesulitan yang duhadapi ekonomi Meksiko menampilkan ancaman yang sungguh-sungguh pada bank-bank komersial dan kepada investor swasta. Konsekuensi politik dan ekonomi terutama bagi Amerika Serikat bisa mengerikan. Pada akhir tahun 1981 bank-bank Amerika mengambil bagian pinjaman terbesar di dalam bank ke Meksiko $21 milyar dari jumlah keseluruhan sebanyak $57 milyar yang menjadi hutang Meksiko kepada bank-bank asing. Konsekuensi potensial, tunggakan dari Meksiko atau kegagalan sebuah bank besar Amerika Serikat, benar-benar mengganggu untuk direnungkan. Pemotongan impor di Meksiko memukul ekspor dari Amerika Serikat dan banyak negara industri yang lain. Kegagalan ekonomi di Meksiko bisa menyebabkan tekanan besar-besaran arus migrasi di Texas dan California. Tidaklah mengherankan, Amerika Serikat memainkan peranan yang besar dalam memelopori aksi segera yang diambil oleh Bank for Intenational Settlements, International Monetary Fund dan bank-bank sentral negara-negara barat yang besar, dan mengambil langkah-langkah tambahannya sendiri, termasuk membelikan minyak Meksiko dengan sistem ijon secara besar-besaran buat cadangan strategis Amerika Serikat

g. Proses
Contoh:
Jika kita pakai simbol S untuk subjek, P untuk predikat, dan O untuk objek, maka kaidah umum untuk membuat kalimat pasif dari kalimat aktif adalah sebagai berikut.
1. Pertahankan urutan S P O, tetapi tukarkanlah pengisi S dan O.
2. Gantilah prefiks meng- dengan di- pada P.
3. Tambahkanlah kata oleh di muka O, terutama jika O terpisahkan oleh kata lain dari P

h. Umum Khusus
Contoh:
Pertunjukkan teater yang mengasyikkan adalah pertunjukkan yang memiliki ciri komunikatif antara pekerja teater dengan penontonnya. Keakraban tersebut terjalin pada komunikasi rohani, yang menimbulkan harmoni antara pelaku dan penontonnya. Pertunjukkan semacam ini sering terjadi di lingkungan teater traditional, yang selalu sejalan dengan perkembangan masyrakatnya. Para penonton pun tidak terikat tempat dan waktu. Di dalam pementasan teater tradisional, adegan-adegan yang lucu dapat diulang-ulang oleh pelakunya sehingga penonton merasa puas (terhibur). Demikian pula pengulangan adegan tari ataupun nyanyian yang digemari oleh publiknya. Isi ceritanya dapat berangkat dari kehidupan sehari-hari, dari legenda, cerita rakyat, roman sejarah, atau cerita asing yang diadaptasikan dengan masyarakatnya. Dialog-dialog dalam teater rakyat bersifat spontan didialogkan oleh para pelakunya

i. Definisi Luas
Contoh:
Masalah bahasa di Indonesia adalah masalah nasional yang memerlukan pengorbanan yang berencana, terarah, dan teliti. Masalah bahasa ini adalah keseluruhan masalah yang ditimbulkan oleh kenyatan bahwa jumlah bahasa yang terdapat dan dipakai di Indonesia besar, bahwa bahasa-bahasa ini merupakan bagian daripada dan didukung oleh kebudayaan yang hidup, dan bahwa bahasa-bahasa ini memainkan peranan yang berbeda di dalam hubungan dengan kepentingan nasional. Di samping bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa resmi pemerintah, terdapat bahasa-bahasa daerah yang jumlahnya belum diketahui dengan pasti dan bahasa-bahasa asing yang dipakai sebagai bahasa perhubungan intenasional.
Sebagai masalah nasional, keseluruhan masalah bahasa di Indonesia merupakan satu jaringan masalah yang dijalin oleh (1) masalah bahasa nasional, (2) masalah bahasa daerah, dan (3) masalah bahasa asing. Di dalam jaringan ini sebagai akibat pemakaian bahasa-bahasa ini di dalam masyarakat yang sama, yaitu masyarakat Indonesia, masalah bahasa nasional, masalah bahasa-bahasa daerah, dan masalah bahasa asing itu memiliki hubungan timbal balik. Pengolahan bahasa nasional tidak dapat dipisahkan dari pengolongan bahasa-bahasa daerah, demikian pula sebaliknya. Penggolongan masalah bahasa nasional dan bahasa-bahasa daerah tidak pula dapat dilepaskan dari masalah pemakaian dan pemanfaatan bahasa-bahasa asing tertentu di Indonesia. Oleh karena itu, pengolahan keseluruhan masalah bahasa ini memerlukan adanya satu kebijaksanaan nasional yang dirumuskan sedemikian rupa sehingga pengolahan masalah itu benar-benar berencana, terarah, dan teliti. Kebijaksanaan nasional yang berisi perencanaan, pengarahan, dan ketentuan-ketentuan yang dapat dipakai sebagai dasar bagi pengolahan keseluruhan masalah bahasa itu disebut politik bahasa nasional

Add comment Oktober 22, 2009

PROBLEMATIKA PERENCANAAN PEMBELAJARAN PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA

Oleh :  Drs. Sayid Saifullah

Publikasi di Media Komunikasi Pendidikan Edisi Ke-V, Jan-Feb 1993. I. Pendahuluan Pendidikan Bahasa Indonesia adalah salah satu dari lima bidang studi pokok selain kelompok Bidang Studi Ilmu Keguruan yang diterapkan dalam program Diploma-II Gru Sekolah Dasar. Tidak berbeda dengan Bidang Studi IPA, IPS, Matematika, PMP dan Kelompok Ilmu Keguruan, maka Pendidikan Bahasa Indonesia pun memiliki keunikan tersendiri dalam hal Program Pengajaran. Keunikan ini terjelma dalam bentuk UNIT yang terdiri dari unsur MEMBACA, KOSA KATA, STRUKTUR, MENULIS, PRAGMATIK, dan APRESIASI. Hal ini dapat disadari bahwa Pendidikan Bahasa Indonesia disamping sebagai ilmnu, ia juga berfungsi sebagai alat. Sebagai ilmu, bahasa Indonesia memiliki aspek pengetahuan yang terdiri atas Morfologi, Fonologi, Sintaksis, Semantik, Etimologi dan Ejaan sedangkan aspek Keterampilan Bahasa yang mencakup Membaca, Berbicara, Menulis dan Menyimak dikategorikan sebagai “alat”. Dari ujud ilmu dan alat, akhirnya menjelma sebagai “nilai” atau “sikap” yang dapat mencerminkan kepribadian berdasarkan Pancasila. Artinya kepribadian yang bermoral, sebagai ujud moral salah satunya adalah bahasa. Memenuhi fungsinya sebagai alat dan ilmu, maka peran ganda ini telah mencuatkan problema tersendiri dalam Pengajaran. Di satu pihak guru mampu menggunakan “alat” dengan sempurna yang dapat “menggigit” bagi pewarisan budaya, di lain pihak ia dituntut harus mampu “mengunyah” bahasa ilmu untuk dituangkan, kepada anak, agar suatu saat kelak si anak mampu pula menggunakannya sebagai alat yang tangguh pula. Melihat fungsinya yang sangat kompleks, Bahasa Indonesia yang diterapkan di Sekolah Dasar nampaknya belum memperlihatkan hasil yang cukup menggembirakan. Hal ini terbukti dari keluhan-keluhan banyak guru tentang kesulitan penyampaiannya maupun Perencanaan Pengajarannya atau sering disebut dengan Satuan Pelajaran. Kesulitan pokok yang dijumpai adalah sekitar penjabaran Tujuan Instruksional Umum ke dalam TIK. II. Beberapa Permasalahan Tujuan Instruksional Khusus (TIK) dan Tujuan Instruksional Umum (TIU) dalam Pengajaran Bahasa. Salah satu tujuan Pendidikan Nasional yang dicantumkan dalam GBHN tahun 1988, adalah : Pendidikan Nasional berdasarkan Pancasila bertujuan untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, berdisiplin, bekerja keras, tangguh, bertanggung jawab, mandiri dan terampil serta sehat jasmani dan rohani. Tujuan Pendidikan yang dijabarkan secara padat tersebut pencapaiannya diarahkan secara bertahap dan terus menerus melalui institusi atau Lembaga Pendidikan. Selain tujuan pendidikan yang dicapai menurut jenjang dan jenis yang berbeda dengan programnya masing-masisng menunjang pencapaian tujuan pendidikan yang lebih menjurus dan terarah sesuai dengan kurikulum pelajaran yang ada. Dengan pedoman kurikulum inilah, akhirnya uraian tujuan yang lebih rinci, khusus dan operasional dapat dijabarkan melalui Tujuan Instruksional Umum dan Tujuan Instruksional khusus. Penjabaran tujuan yang termuat dalam TIU, sebenarnya sudah demikian terarah dan tepat, sehingga tidak perlu lagi adanya tujuan-tujuan lain yang ditambah. Agaknya hal inilah yang luput dari perhatian sebagian guru, karena kebanyakan guru ini lebih cenderung mengabaikan faktor tujuan pokok yang ingin dicapai dalam kegaitan pengajaran. Di satu pihak, guru sekolah dasar yang pundaknya terbeban tanggungjawab mempersiapkan Satuan Pelajaran hampir seluruh pelajaran di kelasnya (khusus Guru Kelas), di lain pihak, secara sadar atau tidak, beban-beban tambahan seperti ini seperti dicari-cari. Maka tidak ada pilihan lain, Sang Guru dengan nafas yang terengah-engah (katakanlah begitu) hanya dapat menjawab pelan, “Apa yang dapat kami lakukan untuk dapat meningkatkan kualitas pendidikan?”. “Kami jangan terlalu dibebani dengan tugas-tugas selain membuat Satuan Pelajaran!” adalah versi lain pernyataan beberapa guru sekolah dasar yang memang tidak perlu dikaji siapa “kambing hitamnya”-nya. Pernyataan tulus seperti ini memang tidak pada semua guru SD, tetapi cukup memberikan gambaran bahwa proses pencapaian tujuan pendidikan sedang mengalami krisis. Jika kita mau jujur dan tidak memejam mata terhadap kenyataan yang ada, patut kita akui secara umum Daerah Istimewa Aceh telah terangkat derajat ranking kualitas lulusanb, namunn kajian-kajian hambatan peningkatan pendidikan secara lokal, kiranya perlu dicarai jalan pemecahan yang terbaik. Hadirnya inisiatif PKG, LKG, KBMG, MGBS, KKG dan sejenisnya memang diakui efektivitasnya, namun belum dapat berbicara banyak bagi peningkatan kualitas “guru”. Dalam kegiatan ini lebih tepat jika disebut “Ajang silaturahmi” guru-guru yang berpredikat “aktif”, karena dalam arena ini para guru jarang sekali mengekspresikan kemampuannya atau hasil temuan yang dapat diandalkan, terutama di sekolah masing-masing. Penyebabnya kurang berfungsi produktif kegiatan ini bukan karena instruktur atau tutor; dan bukan pula kekurangmatangan konsep kegiatan serta tak perlu disalahkan keterbatasan wawasan dan nalar pesertanya. Yang penting adalah bagaimana “pasca” kagiatan ini dapat didistribusikan serta direalisasikan secara penuh perhitungan dan tanggung jawab, terutama “perolehan” yang berguna bagi peningkatan pola dan sistematika PBM. Bertolak dari segelintir masalah di atas, maka sebagai titik fokus tulisan ini hanya berkisar mengenai problema TIU dan TIK dalam Satuan Pelajaran, antara lain sebagai suatu tinjauan analisis bagi pengembangan tujuan pengajaran bahasa Indonesia di Sekolah Dasar. Di bahwa ini penulis turunkan sebuah Tujuan Kurikulum Pelajaran Bahasa Indonesia Kelas III caturwulan I : Siswa memiliki kemampuan berbahasa Indonesia yang baik dan bendar serta dapat menghayati bahasa dan Sastra Indonesia sesuai dengan situasi dan tujuan berbahasa serta tingkat pengalaman siswa Sekolah Dasar (SD). Sepintas lalu kita dapat merasakan 3 tujuan pokok yang tersurat dalam T.K. di atas, seperti kata yang bergaris di bawahnya, yaitu unsur kemampuan, penghayatan dan unsur pengalaman. Sedangkan TIU berbunyi sebagai berikut : Siswa Memahami dan dapat menafsirkan isi wacana prosa narasi tentang perjuangan Pahlawan serta dapat mengkomunikasikannya secara lisan dan tulisan. Memahami, menafsirkan, dan mengkomunikasikan merupakan 3 perangkat tujuan yang ingin dicapai dan sekaligus dapat diujudkan dalam bentuk TIK. Permasalahannya, apakah relevansi TIU dan TIK sudah dapat diterapkan secara sempurna? Berikut adalah sebuah contoh TIK hasil kerja salah seorang Mahasiswa D-2; sesuai dengan TIU di atas : 1. Siswa dapat membaca bacaan “Tuanku Imam Bonjol” 2. Siswa dapat menemukan kata-kata sulit 3. Siswa dapat melafalkan kata-kata dengan baik 4. Siswa dapat merangkum isi cerita 5. Siswa dapat menyimpulkan cerita dengan kata-kata sendiri 6. Siswa dapat menceritakan tentang Tuanku Imam Bonjol Analisis : Sepintas lalu TIK di atas terkesan cukup bagus, terutama karena memiliki variasi tujuan yang dapat dicapai. Untuk menelusuri lebih lanjut ketetapan TIK di atas, lebih baik kita coba membuktikannya melalui beberapa pertanyaan : 1. Atas dasar apakah guru memilih TIK di atas? (misalnya atas dasar TIU, uraian materi atau bisa jadi atas dasar perkiraan-perkiraan). Jika didasari atas TIU, maka perlu dibuktikan TIK nomor berapa sajakah yang mendukung tujhuan pemahaman, penafsiran dan tujuan komunikasi? 2. Sudah demikian operasionalkah (sederhanakah) bunyi setiap TIK di atas? TIK No.1 : dapat membaca bacaan Tuanku Imam Bonjol. Bandingkan dengan : dapat mengartikan prosa narasi tetnang cerita perjuangan Tuanku Imam Bonjol TIK No.2 : dapat menemukan kata-kata sulit. Perlu dipertegas, ”kata-kata sulit yang terdapat dalam bacaan”. Dengan demikian, bahasa yang digunakan pun lebih khusus dan tidak mengambang. Efektivitas atau tidakkah menemukan kata-kata sulit tersebut? Tidakkah ”kata-kata” sulit ini terdapat dalam unsur ”kosa-sakata?”. Akan lebih baik jika kata-kata sulit ini hanya tersirat saja dalam TIK dan hanya dikembangkan dalam kegiatan, bhaik KBM, kokurikuer atau pengayaan lainnya. TIK No.3 : Dapat melafalakan kata-kata dengan baik. Seyogyanyalah kita berjujur-jujur dalam merencanakan program pengajaran yang berdasarkan kurikulum yang ada. Menambah atau mengurangi tujuan yang ingin dicapai merupakan upaya mencari-cari permasalahan baru dan sangat tidak efektif. Kalau hanya tujuan diarahkan pada pencapaian tujuan membaca dan menyimpulkan, bukankah lebih baik TIK ini dihilangkan? Semakin jelaslah TIK itu. TIK No.4 : dapat merangkum isi cerita. Kita harus dapat membayangkan dan menggambarkan penjabaran TIK yang tampak dan dapat diukur. Selebihnya adalah “koherensi” atau hubungan batin yang tersirat dalam TIUm, ada atau tidakkah relevansinya dengan TIK? TIK No. 4 nini jelas bertujuan menyimpulkan dan bukan merangkum. Merangkum adalah kegiatan mengumpulkan bagian-bagian penting dari suatu bacaan, sedangkan menyimpulkan adalah memilih-milih kesatuan fikiran yang terdapat dalam suatu bacaan. Artinya “merangkum: dan “menyimpulkan” terdapat perbedaan ujud, antara kualitas dan kuantitas, antara yang tersurat dan yang tersirat. TIK No.5 : Dapat menyimpulkan cerita dengan kata-kata sendiri. TIK ini merupakan salah satu siratan materi dari TIU sebagai sasaran perubahan sikap dan kemampuan yang ingin dicapai. TIK No.6 : dapat menceritakan tentang Tuanku Imam Bonjol. Seolah-olah ada satu tujuan lain di luar materi bahasa Indonesia untuk pokok bahasan Membaca, yaitu murid mampu menceritakan. Bercerita adalah bagian dari kegiatan bahasa Indonesia di Sekolah Dasar, tetapi menceritakan tentang Tuanku Imam Bonjol, tidaklah mutlak diperlukan, karena hanya terdapat dalam sekian materi PSPB atau juga IPS. Dalam pengajaran bahasa Indonesia murid dituntut dapat menganalisis bacaan dan bukan menganalisis isi. Dalam TIK No.6 ini jelas bukan lagi mengarah kepada bacaan tetapi isi. Sebaiknya TIK ini dihilangkan karena tidak relevan. Mengamati analisis TIK di atas, maka tercermin bahwa tidak seluruh TIK tersebut dapat diterima. Kita dapat menggunakan beberapa tujuan pokok yang mendesak dicapai sementara hadangan keterbatasan waktu dan volume kegiatan dapat teratasi. Untuk apa mencari kerja membuang energi untuk hal yang tidak menunjang? Ternyata, dari 6 TIK tersebut hanya tiga yang sangat menunjang, sedangkan selebihnya merupakan rumusan yang mungkin lebih baik dituangkan dalam kegiatan belajar mengajar yang dirancang. Rumusan TIK dijabarkan dari TIU dengan azas operasional, artinya jabaran itu harus merupakan gambaran tingkah laku yang tampak dan dapat diukur. Setiap rumusan merupakan gambaran dari satu jenis tingkah laku yang dapat dicapai dalam satu kegiatan belajar mengajar. Oleh karena itu guru diharapkan dapat menjabarkan TIK berdasarkan pokok bahasan dan sub pokok bahasan serta uraian materi yang memang telah ditetapkan dalam kurikulum. Di sampinbg itu, bahan pelajaran yang ditetapkan pun menunjukkan pada kenyataan dan fakta serta sesuai dengan pengetahuan yang sudah dikenal murid. Ada dua hasil belajar yang diharapkan yaitu siswa menguasai bahan yang dipelajari dan sikap murid setelah menguasai bahan tersebut sehingga memberikan nilai positif. Bahasa Indojnesia yang diterapkan di setiap lembaga pendidikan, di samping sebagai ilmu ia juga berfungsi sebagai alat, yaitu alat komunikasi. Mungkin inilah yang disebut ke kompleksan bahasa Indonesia yang menyebabkan munculnya berbagai keluhan bagi sebagian guru. Keluhan ini cukup beralasan, karena guru dituntut selain terampil menerapkan materi pembelajaran Bahasa Indonesia, ia juga diharapkan mampu menggunakan “bahasa” lisan, maupun tulis secara baik dan benar. Kesalahan sekecil mungkin sebaiknya tidak terjadi karena besar kemungkinan akan merugikan murid. Itulah sebabnya faktor bahasa, ditakuti tetapi diperlukan. Ditakuti karena “kaidah” diperlukan karena “alat”.

Add comment Oktober 22, 2009

Metode Pembelajaran Menulis

a. Metode Langsung
Metode pengajaran langsung dirancang secara khusus untuk mengembangkan belajar siswa tentang pengetahuan prosedural dan pengetahuan deklaratif yang terstruktur dengan baik dan dapat dipelajari selangkah demi selangkah. Metode tersebut didasari anggapan bahwa pada umumnya pengetahuan dibagi dua, yakni pengetahuan deklaratif dan pengetahuan prosedural. Deklaratif berarti pengetahuan tentang bagaimana melakukan sesuatu. Dalam metode langsung, terdapat lima fase yang sangat penting. Guru mengawali dengan penjelasan tentang tujuan dan latar belakang pembelajaran serta mempersiapkan siswa untuk menerima penjelasan guru. Hal itu disebut fase persiapan dan motivasi. Fase berikutnya adalah fase demontrasi, pembimbingan, pengecekan, dan pelatihan lanjutan.
Pada metode langsung bisa dikembangkan dengan teknik pembelajaran menulis dari gambar atau menulis objek langsung dan atau perbandingan objek langsung. Teknik menulis dari gambar atau menulis objek langsung bertujuan agar siswa dapat menulis dengan cepat berdasarkan gambar yang
dilihat. Misalnya, guru menunjukkan gambar kebakaran yang melanda sebuah desa atau melihat langsung kejadian kebakaran sebuah desa, Dari gambar tersebut siswa dapat membuat tulisan secara runtut dan logis berdasarkan gambar.

b. Metode Komunikatif
Desain yang bermuatan metode komunikatif harus mencakup semua keterampilan berbahasa. Setiap tujuan diorganisasikan ke dalam pembelajaran. Setiap pembelajaran dispesifikkan ke dalam tujuan kongkret yang merupakan produk akhir. Sebuah produk di sini dimaksudkan sebagai sebuah informasi yang dapat dipahami, ditulis, diusahakan, atau disajikan ke dalam nonlinguistik. Sepucuk surat adalah sebuah produk. Demikian pula sebuah perintah, pesan, laporan atau peta juga merupakan produk yang dapat dilihat dan diamati. Dengan begitu, produk-produk tersebut dihasilkan melalui penyelesaian tugas yang berhasil. Metode komunikatif dapat dilakukan dengan teknik menulis dialog. Siswa menulis dialog tentang yang mereka lakukan dalam sebuah aktivitas. Kegiatan ini dapat dilaksanakan perseorangan maupun kelompok.

c. Metode Integratif
Integratif berarti menyatukan beberap aspek ke dalam satu proses. Integratif terbagi menjadi interbidang studi dan antarbidang studi. Interbidang studi artinya beberapa aspek dalam satu bidang studi diintegrasikan. Misalnya, menyimak diintegrasikan dengan berbicara dan menulis. Menulis diintegrasikan dengan membaca dan berbicara. Materi kebahasaan diintegrasikan dengan keterampilan bahasa. Sedangkan antarbidang studi merupakan pengintegrasian bahan dari beberapa bidang studi. Misalnya; antarabahasa Indonesia dengan matematika atau dengan bidang studi lainnya. Dalam pembelajaran bahasa Indonesia, integratif interbidang studi lebih banyak digunakan. Saat mengajarkan kalimat, guru tidak secara langsung menyodorkan materi kalimat ke siswa tetapi diawali dengan membaca atau yang lainnya. Perpindahannya diatur secara tipis. Bahkan, guru yang pandai mengintegrasikan penyampaian materi dapat menyebabkan siswa tidak merasakan perpindahan materi. Integratif sangat diharapkan oleh Kurikulum Bahasa Indonesia Berbasis Kompetensi. Pengintegrasiannya diaplikasikan sesuai dengan kompetensi dasar yang perlu dimiliki siswa. Materi tidak dipisah-pisahkan. Materi ajar justru merupakan kesatuan yang perlu dikemas secara menarik. Metode inregratif dapat dilaksanakan dalam pembelajaran mambaca dengan memberi catatan bacaan. Siswa dapat membuat catatan yang diangap penting atau kalimat kunci sebuah bacaan. Dalam melakukan kegiatan membaca sekaligus siswa menulis.

d. Metode Tematik
Dalam metode tematik, semua komponen materi pembelajaran diintegrasikan ke dalam tema yang sama dalam satu unit pertemuan. Yang perlu dipahami adalah tema bukanlah tujuan tetapi alat yang digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Tema tersebut harus diolah dan disajikan secara kontekstualitas, kontemporer, kongkret, dan konseptual. Tema yang telah ditentukan harus diolah sesuai dengan perkembangan dan lingkungan siswa. Budaya, sosial, dan religiusitas mereka menjadi perhatian. Begitu pula isi tema yang disajikan secara kontemporer sehingga siswa senang. Apa yang terjadi sekarang di lingkungan siswa juga harus terbahas dan terdiskusikan di kelas. Kemudian, tema tidak disajikan secara abstrak tetapi diberikan secara kongkret. Semua siswa dapat mengikuti proses pembelajaran dengan logika yang dipunyainya. Siswa berangkat dari konsep ke analisis atau dari analisis ke konsep kebahasaan, penggunaan, dan pemahaman.

e. Metode Konstruktivistik
Asumsi sentral metode konstruktivistik adalah belajar itu menemukan. Artinya, meskipun guru menyampaikan sesuatu kepada siswa, mereka melakukan proses mental atau kerja otak atas informasi itu agar informasi tersebut masuk ke dalam pemahaman mereka. Konstuktivistik dimulai dari masalah (sering muncul dari siswa sendiri) dan selanjutnya membantu siswa menyelesaikan dan menemukan langkah-langkah pemecahan masalah tersebut. Metode konstruktivistik didasarkan pada teori belajar kognitif yang menekankan pada pembelajaran kooperatif, pembelajaran generatif strategi bertanya, inkuiri, atau menemukan dan keterampilan metakognitif lainnya (belajar bagaimana seharusnya belajar).

f. Metode Kontekstual
Pembelajaran kontekstual adalah konsepsi pembelajaran yang membantu guru menghubungkan mata pelajaran dengan situasi dunia nyata dan pembelajaran yang memotivasi siswa agar menghubungkan pengetahuan dan terapannya dengan kehidupan sehari-hari sebagai anggota keluarga dan masyarakat (Ardina, 2001). Pembelajaran dengan menggunakan metode ini akan mempermudah dalam pembelajaran menulis. Anak dimotivasi agar mampu menulis. Menurut Nur (2001) pengajaran kontekstual memungkinkan siswa menguatkan, memperluas, dan menerapkan pengatahuan dan keterampilan akademik mereka dalam berbagai macam tatanan dalam sekolah dan di luar sekolah agar siswa dapat memecahkan masalah dunia nyata atau masalah yang disimulasikan. Sebenarnya siswa dalam belajar tidak berada di awan tetapi berada di bumi yang selalu menyatu dengan tempat belajar, waktu, situasi, dan suasana alam dan masyarakatnya. Untuk itu, metode yang dianggap tepat untuk mengembangkan pembelajaran adalah metode kontekstual (Contextual Teaching and Learning). Adapun metode ini dapat diterapkan dalam salah satu pembelajaran menulis deskripsi. Siswa dapat belajar dalam situasi dunia nyata tidak dalam dunia awang-awang.

1 comment Oktober 16, 2009

Link Blog Silabus, RPP, Cerpen, dan lain-lain

Bapak/Ibu yang memerlukan Silabus, RPP, Metodologi, Cerpen, dan lain-lain silahkan diunduuh di http://hoesnaeni.wordpress.com

Add comment Agustus 21, 2009

Proses Kreatif dalam Pembelajaran

Menciptakan suasana kelas yang penuh inspirasi bagi siswa, kreatif, dan antusias merupakan salah satu tugas dan tanggung jawab seorang guru. Dengan begitu, waktu belajar menjadi saat yang dinanti-nantikan oleh siswa. Namun, tugas ini tidaklah mudah. Apalagi saat ini, di mana era informasi dan teknologi sudah mulai merambah segala aspek kehidupan. Begitu pula persaingan hidup yang menjadi semakin ketat. Bagaimana seorang guru menjadi figur dan contoh kreatif bagi setiap nilai dan pencapaian kompetensi siswa adalah sebagai sebuah tantangan.

Untuk meningkatkan kualitas belajar siswa, dibutuhkan sebuah proses kreatif dalam pembelajaran. Maksudnya adalah upaya-upaya penting yang dilakukan untuk mendayagunakan potensi kognitif dan afektif dari siswa secara optimal, sehingga ide-ide baru dan cerdas lebih terakomodir.

Proses kreatif juga berarti bagaimana membuat setiap siswa memiliki multiperspektif dan cara pandang yang luas terhadap sebuah fakta. Proses kreatif juga berarti bahwa setiap siswa mampu mengamati hal-hal detail yang menjadi rujukan dalam berpendapat maupun menyelesaikan permasalahan, baik untuk dirinya sendiri maupun komunitas dalam masyarakat.

Bagaimana seorang guru bisa menjadi fasilitator proses kreatif dalam pembelajaran? Ada beberapa tahapan yang bisa dilaksanakan. Yang pertama, adalah kemampuan untuk mengakomodir gaya belajar setiap siswa. Masing-masing siswa mempunyai pribadi yang unik dan gaya belajar yang berbeda. Ada yang mempunyai kecenderungan kinestetik, visual, maupun audithorial.
Pelajar kinestetik adalah pelajar yang dapat mengasosiasikan informasi dengan gerakan tubuh. Mereka juga menyukai praktik dan proyek terapan. Pelajar Visual menyukai banyak simbol dan gambar. Mereka juga menyukai peta pikiran (mind mapping), teratur, dan suka akan warna.

Sedangkan pelajar audithorial, lebih suka untuk mendengarkan. Mereka menyukai untuk mendengarkan penjelasan, cerita dan petualangan, gagasan, maupun kisah-kisah populer. Tugas guru sebagai fasilitator adalah bagaimana meramu sebuah metode pembelajaran yang tepat dan dapat mengakomodir berbagai macam gaya belajar siswa tersebut.

Kedua, yaitu suasana belajar yang menggairahkan. Menciptakan suasana belajar yang menggairahkan dapat dilakukan dengan berbagai cara, di antaranya yaitu menggunakan presentasi pengajaran yang lebih hidup dan menarik bagi setiap siswa. Hal ini dapat dilakukan lewat berbagai media dan alat pengajaran yang tepat, termasuk teknologi tepat guna. Selanjutnya, yaitu menyusun bahan pengajaran yang sesuai, merancang <I>setting<I> kelas, menggunakan musik dan mewarnai lingkungan sekeliling. Salah satu sarana untuk menumbuhkan rasa bangga dan kepercayaan diri yang baik yaitu dengan menempelkan hasil karya siswa tersebut di dinding kelas.

Poin penting lain ialah keterlibatan aktif siswa. Siswa yang mempunyai sikap analitis, kritis, dan pandai menulis membutuhkan dorongan dan stimulasi yang simultan (terus-menerus). Di sinilah peran penting seorang guru yang menjadi fasilitator siswa untuk menumbuhkan rasa ingin tahu, menjelajahi lebih dalam tentang suatu ilmu dan menggali lebih banyak informasi yang ada. Performa guru juga ikut andil untuk ikut menciptakan suasana yang mendukung saat belajar. Guru yang optimis, percaya diri, mempunyai kapasitas keilmuan yang tidak diragukan akan melejitkan potensi siswa dan membuat siswa menjadi optimis dan percaya diri.

Ketiga, yaitu kemampuan menanamkan nilai dan ketrampilan hidup dengan kapasitas yang benar bagi siswa. Di sinilah pentingnya mengajar dengan keteladanan. Sehingga penerapan nilai dalam pribadi guru menjadi utama, karena guru adalah model. Sebagai contoh, keberhasilan menerapkan budaya membaca berawal dari budaya membaca yang terbangun dalam komunitas sekolah, mulai dari para guru kemudian berlanjut kepada siswa.

Kemudian, dalam konteks ini pula, guru memberi stimulasi pada siswa untuk memiliki cara pandang multi perspektif. Tentunya dalam hal ini, sangat dibutuhkan kearifan dalam menambahkan betapa pentingnya nilai hidup yang positif.

Keempat, yaitu menghilangkan segala hambatan dalam belajar. Di antaranya yaitu bagaimana guru membangun interaksi, kedekatan dan komunikasi dengan siswa, baik secara verbal maupun non-verbal. Kemampuan guru menjadi pendengar yang baik, sehingga berbagai macam pendapat baru muncul dan terakomodir adalah hal yang sangat penting. Ajarkan dan lakukan bahwa menghargai semua pendapat dapat memperkaya wawasan dan membuka pikiran.

Namun, kadang kala hambatan belajar yang sifatnya internal, sering muncul dan mendominasi pertemuan. Pola mengajar tradisional yang tidak terbantahkan dan ‘aku selalu benar’ dapat menjadi bumerang bagi individu guru tersebut. Oleh karena itu, singkirkan terlebih dahulu hambatan internal baru kemudian membangun interaksi yang lebih sehat dengan siswa.

Sebuah kelompok peduli matematika di Indonesia, telah berhasil menerapkan proses kreatif dalam pembelajarannya. Beberapa siswa yang dibimbingnya menjadi juara-juara olimpiade matematika tingkat internasional. Yayasan KPM yang diketuai oleh Bapak Ridwan ini memberi kita ilustrasi nyata dan inspirasi, bahwa belajar matematika lebih asyik dan mudah dengan logika, tidak hanya terpaku pada buku paket saja.

Beberapa langkah dan tips yang telah dipaparkan di atas semoga dapat membantu kita semua untuk senantiasa menghargai dan melakukan proses kreatif dalam pembelajaran, baik di rumah maupun di sekolah. Dengan didukung profesionalisme dan kompetensi yang terus ditingkatkan, maka kebangkitan pendidikan di Indonesia adalah sebuah kepastian

Sumber: Klubguru

1 comment Januari 30, 2009

Metode: COURSE RIVIEW HORAY

Suatu metode pembelajaran dengan pengujian pemahaman menggunakan kotak yang diisi dengan nomor untuk menuliskan jawabannya, yang paling dulu mendapatkan tanda benar langsung berteriak horay.

Langkah-langkah:
Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai.
Guru mendemonstrasikan / menyajikan materi sesuai tpk.
Memberikan siswa tanya jawab.
Untuk menguji pemahaman, siswa disuruh membuat kotak 9 / 16 / 25 sesuai dengan kebutuhan dan tiap kotak diisi angka sesuai dengan selera masing-masing.
Guru membaca soal secara acak dan siswa menulis jawaban di dalam kotak yang nomornya disebutkan guru dan langsung didiskusikan, kalau benar diisi tanda benar (v) dan salah diisi tanda silang (x)
Siswa yang sudah mendapat tanda v vertikal atau horisontal, atau diagonal harus segera berteriak horay atau yel-yel lainnya.
Nilai siswa dihitung dari jawaban benar dan jumlah horay yang diperoleh.
Penutup.

Kelebihan:

1. Pembelajarannya menarik mendorong untuk dapat terjun ke dalamnya.
2. Melatih kerjasama.

Kekurangan:
1. Siswa aktif dan pasif nilainya disamakan.
2. Adanya peluang untuk curang.

Add comment Januari 24, 2009

TEKNIK MEMBACA PUISI (DEKLAMASI)

1. Pengantar
Deklamasi berasal dari bahasa Latin yang maksudnya declamare atau declaim yang membawa makna membaca sesuatu hasil sastera yang berbentuk puisi dengan lagu atau gerak tubuh sebagai alat bantu. Gerak yang dimaksudkan ialah gerak alat bantu yang puitis, yang seirama dengan isi bacaan.
Umumnya memang deklamasi berkait rapat dengan puisi, akan tetapi membaca sebuah cerpen dengan lagu atau gerak tubuh juga bisa dikatakan mendeklamasi. Mendeklamasikan puisi atau cerpen bermakna membaca, tetapi membaca tidak sama dengan maksud mendeklamasi. Maksudnya di sini bahwa apapun pengertian membaca tentunya jauh berbeda dengan maksud deklamasi.

2. MAKNA KATA DEKLAMASI
Sudah jelas deklamasi itu berasal dari bahasa asing, jadi maknanya ia bukan kata asli Indonesia. Memang keadaan semacam ini sering berlaku di Indonesia, misalnya kata neraka, izin, zaman, ajal, karam dan lain-lain berasal dari bahasa Arab, sedang tauco, tauge berasal dari bahasa Tionghua. Manakala dastar, kenduri, kelasi berasal dari bahasa Persi. Lampu, mesin, koki, repot dari bahasa Belanda, manakala pensil, botol berasal dari bahasa Inggris dan demikianlah halnya deklamasi berasal dari bahasa Latin.
Di Indonesia perkataan deklamasi sudah ada sebelum tahun 1950-an. Deklamasi artinya membawa puisi-puisi, sedang orang yang melakukan deklamasi itu disebut “Deklamator” untuk lelaki dan “Deklamatris” untuk perempuan.
Apa bedanya deklamasi dan nyanyi? Menyanyi ialah melagukan suatu nyanyian dengan menggunakan not-not do-re-mi atau not balok, sedang deklamasi ialah membawakan pantun-pantun, syair, puisi atau sajak dengan menggunakan irama dan gaya yang baik. Disamping itu kita mengenal pula: menari, melukis, memahat, sandiwara dan lain-lain. Semuanya itu mempunyai cara-cara dan aturannya sendiri-sendiri. (lagi…)

1 comment Desember 28, 2008

Metode Pembelajaran Efektif

Belajar atau pembelajaran adalah merupakan sebuah kegiatan yang wajib kita lakukan dan kita berikan kepada anak-anak kita. Karena ia merupakan kunci sukses unutk menggapai masa depan yang cerah, mempersiapkan generasi bangsa dengan wawasan ilmu pengetahuan yang tinggi. Yang pada akhirnya akan berguna bagi bangsa, negara, dan agama. Melihat peran yang begitu vital, maka menerapkan metode yang efektif dan efisien adalah sebuah keharusan. Dengan harapan proses belajar mengajar akan berjalan menyenakngkan dan tidak membosankan. Di bawah ini adalah beberapa metode pembelajaran efektif, yang mungkin bisa kita persiapkan. (lagi…)

4 comments Desember 25, 2008

Teknik Pengajaran Menulis Cerita (Pendek)

Oleh: Dede M. Riva, S.Pd.

Bagi sebagian siswa menulis cerita dirasakan sebagai wisata hati, sesuatu yang sangat menyenangkan. Melalui cerita seseorang dapat berbagi pengalaman hidup dan berkeluh-kesah. Melalui cerita pula penulis dapat merekam lika-liku kehidupan yang dijalaninya. Masalahnya, bagaimana cara memotivasi siswa yang belum terbiasa menulis cerita?

Pengajaran menulis cerita dapat dilakukan melalui langkah-langkah berikut. Pertama, mencatat yang terlintas, yaitu tuliskan sebanyak mungkin kata yang terlintas dalam pikiran setelah mendengar suatu kata. Misalnya, ketika dikatakan “sandal jepit”, tuliskan “alas kaki, murah, toilet, licin, santai, dsb.”

Kegiatan ini adalah aktivitas pembuka untuk melepaskan sekat-sekat keraguan serta melatih kreativitas berpikir. Umumnya kendala menulis adalah (a) keraguan untuk memulai menulis, (b) keraguan untuk merangkai jalan cerita, dan (c) keraguan apakah tulisannya bagus atau tidak. Hambatan-hambatan itulah yang ingin dikikis melalui kegiatan Mencatat yang Terlintas.

            Kedua, mendeskripsikan, yaitu memberikan gambaran tentang suatu objek, tempat, suasana, tokoh, penokohan, dsb. sehingga pembaca seolah-olah dapat merasakan, melihat, mendengar, mencium apa yang dideskripsikan penulis. Latihan pendeskripsian dilakukan dengan cara (a) mendeskripsikan sesuatu yang terlihat, (b) mendeskripsikan sesuatu yang terdengar, (4) mendeskripsikan sesuatu yang tercium, dan (d) mendeskripsikan sesuatu yang teraba. Latihan ini dilakukan satu per satu agar pendeskripsian dapat lebih terfokus dan mendalam (detail).

Latihan pendeskripsian sangat penting karena karya-karya tulis besar yang menarik minat pembaca adalah karya yang berhasil dari segi pendeskripsian. Di antara daya tarik novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata adalah karena sukses mendeskripsikan indahnya keberagaman di antara sepuluh sekawan (laskar pelangi). Novel The Davinci Code menjadi menarik karena Dan Brown, pengarangnya, berhasil mendeskripsikan ketegangan Sophie Neveu dan Langdon dalam usahanya memecahkan kode-kode rahasia dan melepaskan diri dari kejaran polisi dan rivalnya. Ketika Cinta Bertasbih menarik untuk dibaca karena Habiburrahman El Shirazy berhasil memberikan penggambaran tentang keuletan Khairul Azzam hingga dapat meraih sukses.

            Ketiga, menggunakan pengandaian 180° berbeda. Latihan menulis cerita tidak harus dimulai dengan sesuatu yang baru. Latihan dapat dimulai dengan sesuatu yang sudah dikenal semua siswa. Hal ini bertujuan agar siswa memiliki gambaran umum tentang apa yang akan dituliskan. Tapi, agar cerita tetap menarik, siswa diharuskan menulis cerita dengan karakteristik tokoh yang berbeda 180°. Misalnya, bila siswa hendak menuliskan kembali cerita “Si Kancil”, maka karakteristik Kancil yang biasanya lebih cerdik daripada Buaya, kali ini diubah 180° berbeda sehingga Buaya dibuat lebih cerdik.

            Keempat, menggunakan berbagai sudut pandang (point of view). Sudut pandang artinya dari pandangan mana peristiwa-peristiwa dalam cerita dipaparkan, apakah dari sudut pandang pengarang, tokoh A, atau tokoh B. Di dalam cerita yang utuh, sudut pandang selalu berubah. Oleh karena itu, perubahan sudut pandang merupakan bagian yang harus dilatihkan agar siswa dapat membuat cerita yang lebih variatif dan menarik.

Pada cerita Si Kancil (dengan 180° berbeda), pertama-tama siswa diminta untuk menuliskan cerita dengan sudut pandang Si Kancil. Selanjutnya, siswa diminta untuk membuat cerita tersebut dengan sudut pandang Buaya.

Kegiatan menulis ibarat mengasah gergaji. Bila tidak pernah diasah, gergaji akan tumpul, tak tajam. Tapi, semakin sering gergaji diasah, maka semakin tajam gergaji kita, semain mudah pula kita memakainya. Demikian pula dengan menulis, semakin sering berlatih maka semakin terampil kita menulis.

2 comments Desember 18, 2008

Previous Posts


PENGUMUMAN

Sertifikat Pelatihan Menulis Cerita (24-25 Desember 2008) dapat diambil di SMPN 3 Bogor. Mohon terlebih dahulu kontak ke 0251 2799395. Terima kasih.

Anda pengunjung ke:

AGENDA

----------------------------------------- Wadah komunikasi Guru Bahasa Indonesia. Kirimkan karya Anda ke email: bindobogor@gmail.com
Rekan-rekan yang akan mengunduh/mendownload, silahkan klik halaman unduh! Rekan Guru Bahasa Indonesia SMP yang memerlukan RPP Bahasa indonesia untuk diadopsi/revisi dapat mendownloadnya di: http://hoesnaeni.wordpress.com

 

Februari 2010
S S R K J S M
« Nov    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728

Tulisan Terakhir

Tulisan Teratas

Klik tertinggi

Blogroll

Pendidikan

PENTING

Diskusi

ipah latipah di Teknik Pengajaran Menulis Ceri…
Mochamad Abduh di MODEL SILABUS & RPP BAHASA…
Na di Metode Pembelajaran Menul…
mgmpsmp di Kegiatan
RAHMAT PUTRA di MODEL SILABUS & RPP BAHASA…
RAHMAT PUTRA di MODEL SILABUS & RPP BAHASA…
dewi di Guru
mizZ_tembem says di MODEL SILABUS & RPP BAHASA…
mizZ_tembem says di MODEL SILABUS & RPP BAHASA…
endrijoni di MODEL SILABUS & RPP BAHASA…

Lokasi Pengunjung

Meta