PROBLEMATIKA PERENCANAAN PEMBELAJARAN PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA

Oktober 22, 2009 at 11:52 am Tinggalkan komentar

Oleh :  Drs. Sayid Saifullah

Publikasi di Media Komunikasi Pendidikan Edisi Ke-V, Jan-Feb 1993. I. Pendahuluan Pendidikan Bahasa Indonesia adalah salah satu dari lima bidang studi pokok selain kelompok Bidang Studi Ilmu Keguruan yang diterapkan dalam program Diploma-II Gru Sekolah Dasar. Tidak berbeda dengan Bidang Studi IPA, IPS, Matematika, PMP dan Kelompok Ilmu Keguruan, maka Pendidikan Bahasa Indonesia pun memiliki keunikan tersendiri dalam hal Program Pengajaran. Keunikan ini terjelma dalam bentuk UNIT yang terdiri dari unsur MEMBACA, KOSA KATA, STRUKTUR, MENULIS, PRAGMATIK, dan APRESIASI. Hal ini dapat disadari bahwa Pendidikan Bahasa Indonesia disamping sebagai ilmnu, ia juga berfungsi sebagai alat. Sebagai ilmu, bahasa Indonesia memiliki aspek pengetahuan yang terdiri atas Morfologi, Fonologi, Sintaksis, Semantik, Etimologi dan Ejaan sedangkan aspek Keterampilan Bahasa yang mencakup Membaca, Berbicara, Menulis dan Menyimak dikategorikan sebagai “alat”. Dari ujud ilmu dan alat, akhirnya menjelma sebagai “nilai” atau “sikap” yang dapat mencerminkan kepribadian berdasarkan Pancasila. Artinya kepribadian yang bermoral, sebagai ujud moral salah satunya adalah bahasa. Memenuhi fungsinya sebagai alat dan ilmu, maka peran ganda ini telah mencuatkan problema tersendiri dalam Pengajaran. Di satu pihak guru mampu menggunakan “alat” dengan sempurna yang dapat “menggigit” bagi pewarisan budaya, di lain pihak ia dituntut harus mampu “mengunyah” bahasa ilmu untuk dituangkan, kepada anak, agar suatu saat kelak si anak mampu pula menggunakannya sebagai alat yang tangguh pula. Melihat fungsinya yang sangat kompleks, Bahasa Indonesia yang diterapkan di Sekolah Dasar nampaknya belum memperlihatkan hasil yang cukup menggembirakan. Hal ini terbukti dari keluhan-keluhan banyak guru tentang kesulitan penyampaiannya maupun Perencanaan Pengajarannya atau sering disebut dengan Satuan Pelajaran. Kesulitan pokok yang dijumpai adalah sekitar penjabaran Tujuan Instruksional Umum ke dalam TIK. II. Beberapa Permasalahan Tujuan Instruksional Khusus (TIK) dan Tujuan Instruksional Umum (TIU) dalam Pengajaran Bahasa. Salah satu tujuan Pendidikan Nasional yang dicantumkan dalam GBHN tahun 1988, adalah : Pendidikan Nasional berdasarkan Pancasila bertujuan untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, berdisiplin, bekerja keras, tangguh, bertanggung jawab, mandiri dan terampil serta sehat jasmani dan rohani. Tujuan Pendidikan yang dijabarkan secara padat tersebut pencapaiannya diarahkan secara bertahap dan terus menerus melalui institusi atau Lembaga Pendidikan. Selain tujuan pendidikan yang dicapai menurut jenjang dan jenis yang berbeda dengan programnya masing-masisng menunjang pencapaian tujuan pendidikan yang lebih menjurus dan terarah sesuai dengan kurikulum pelajaran yang ada. Dengan pedoman kurikulum inilah, akhirnya uraian tujuan yang lebih rinci, khusus dan operasional dapat dijabarkan melalui Tujuan Instruksional Umum dan Tujuan Instruksional khusus. Penjabaran tujuan yang termuat dalam TIU, sebenarnya sudah demikian terarah dan tepat, sehingga tidak perlu lagi adanya tujuan-tujuan lain yang ditambah. Agaknya hal inilah yang luput dari perhatian sebagian guru, karena kebanyakan guru ini lebih cenderung mengabaikan faktor tujuan pokok yang ingin dicapai dalam kegaitan pengajaran. Di satu pihak, guru sekolah dasar yang pundaknya terbeban tanggungjawab mempersiapkan Satuan Pelajaran hampir seluruh pelajaran di kelasnya (khusus Guru Kelas), di lain pihak, secara sadar atau tidak, beban-beban tambahan seperti ini seperti dicari-cari. Maka tidak ada pilihan lain, Sang Guru dengan nafas yang terengah-engah (katakanlah begitu) hanya dapat menjawab pelan, “Apa yang dapat kami lakukan untuk dapat meningkatkan kualitas pendidikan?”. “Kami jangan terlalu dibebani dengan tugas-tugas selain membuat Satuan Pelajaran!” adalah versi lain pernyataan beberapa guru sekolah dasar yang memang tidak perlu dikaji siapa “kambing hitamnya”-nya. Pernyataan tulus seperti ini memang tidak pada semua guru SD, tetapi cukup memberikan gambaran bahwa proses pencapaian tujuan pendidikan sedang mengalami krisis. Jika kita mau jujur dan tidak memejam mata terhadap kenyataan yang ada, patut kita akui secara umum Daerah Istimewa Aceh telah terangkat derajat ranking kualitas lulusanb, namunn kajian-kajian hambatan peningkatan pendidikan secara lokal, kiranya perlu dicarai jalan pemecahan yang terbaik. Hadirnya inisiatif PKG, LKG, KBMG, MGBS, KKG dan sejenisnya memang diakui efektivitasnya, namun belum dapat berbicara banyak bagi peningkatan kualitas “guru”. Dalam kegiatan ini lebih tepat jika disebut “Ajang silaturahmi” guru-guru yang berpredikat “aktif”, karena dalam arena ini para guru jarang sekali mengekspresikan kemampuannya atau hasil temuan yang dapat diandalkan, terutama di sekolah masing-masing. Penyebabnya kurang berfungsi produktif kegiatan ini bukan karena instruktur atau tutor; dan bukan pula kekurangmatangan konsep kegiatan serta tak perlu disalahkan keterbatasan wawasan dan nalar pesertanya. Yang penting adalah bagaimana “pasca” kagiatan ini dapat didistribusikan serta direalisasikan secara penuh perhitungan dan tanggung jawab, terutama “perolehan” yang berguna bagi peningkatan pola dan sistematika PBM. Bertolak dari segelintir masalah di atas, maka sebagai titik fokus tulisan ini hanya berkisar mengenai problema TIU dan TIK dalam Satuan Pelajaran, antara lain sebagai suatu tinjauan analisis bagi pengembangan tujuan pengajaran bahasa Indonesia di Sekolah Dasar. Di bahwa ini penulis turunkan sebuah Tujuan Kurikulum Pelajaran Bahasa Indonesia Kelas III caturwulan I : Siswa memiliki kemampuan berbahasa Indonesia yang baik dan bendar serta dapat menghayati bahasa dan Sastra Indonesia sesuai dengan situasi dan tujuan berbahasa serta tingkat pengalaman siswa Sekolah Dasar (SD). Sepintas lalu kita dapat merasakan 3 tujuan pokok yang tersurat dalam T.K. di atas, seperti kata yang bergaris di bawahnya, yaitu unsur kemampuan, penghayatan dan unsur pengalaman. Sedangkan TIU berbunyi sebagai berikut : Siswa Memahami dan dapat menafsirkan isi wacana prosa narasi tentang perjuangan Pahlawan serta dapat mengkomunikasikannya secara lisan dan tulisan. Memahami, menafsirkan, dan mengkomunikasikan merupakan 3 perangkat tujuan yang ingin dicapai dan sekaligus dapat diujudkan dalam bentuk TIK. Permasalahannya, apakah relevansi TIU dan TIK sudah dapat diterapkan secara sempurna? Berikut adalah sebuah contoh TIK hasil kerja salah seorang Mahasiswa D-2; sesuai dengan TIU di atas : 1. Siswa dapat membaca bacaan “Tuanku Imam Bonjol” 2. Siswa dapat menemukan kata-kata sulit 3. Siswa dapat melafalkan kata-kata dengan baik 4. Siswa dapat merangkum isi cerita 5. Siswa dapat menyimpulkan cerita dengan kata-kata sendiri 6. Siswa dapat menceritakan tentang Tuanku Imam Bonjol Analisis : Sepintas lalu TIK di atas terkesan cukup bagus, terutama karena memiliki variasi tujuan yang dapat dicapai. Untuk menelusuri lebih lanjut ketetapan TIK di atas, lebih baik kita coba membuktikannya melalui beberapa pertanyaan : 1. Atas dasar apakah guru memilih TIK di atas? (misalnya atas dasar TIU, uraian materi atau bisa jadi atas dasar perkiraan-perkiraan). Jika didasari atas TIU, maka perlu dibuktikan TIK nomor berapa sajakah yang mendukung tujhuan pemahaman, penafsiran dan tujuan komunikasi? 2. Sudah demikian operasionalkah (sederhanakah) bunyi setiap TIK di atas? TIK No.1 : dapat membaca bacaan Tuanku Imam Bonjol. Bandingkan dengan : dapat mengartikan prosa narasi tetnang cerita perjuangan Tuanku Imam Bonjol TIK No.2 : dapat menemukan kata-kata sulit. Perlu dipertegas, ”kata-kata sulit yang terdapat dalam bacaan”. Dengan demikian, bahasa yang digunakan pun lebih khusus dan tidak mengambang. Efektivitas atau tidakkah menemukan kata-kata sulit tersebut? Tidakkah ”kata-kata” sulit ini terdapat dalam unsur ”kosa-sakata?”. Akan lebih baik jika kata-kata sulit ini hanya tersirat saja dalam TIK dan hanya dikembangkan dalam kegiatan, bhaik KBM, kokurikuer atau pengayaan lainnya. TIK No.3 : Dapat melafalakan kata-kata dengan baik. Seyogyanyalah kita berjujur-jujur dalam merencanakan program pengajaran yang berdasarkan kurikulum yang ada. Menambah atau mengurangi tujuan yang ingin dicapai merupakan upaya mencari-cari permasalahan baru dan sangat tidak efektif. Kalau hanya tujuan diarahkan pada pencapaian tujuan membaca dan menyimpulkan, bukankah lebih baik TIK ini dihilangkan? Semakin jelaslah TIK itu. TIK No.4 : dapat merangkum isi cerita. Kita harus dapat membayangkan dan menggambarkan penjabaran TIK yang tampak dan dapat diukur. Selebihnya adalah “koherensi” atau hubungan batin yang tersirat dalam TIUm, ada atau tidakkah relevansinya dengan TIK? TIK No. 4 nini jelas bertujuan menyimpulkan dan bukan merangkum. Merangkum adalah kegiatan mengumpulkan bagian-bagian penting dari suatu bacaan, sedangkan menyimpulkan adalah memilih-milih kesatuan fikiran yang terdapat dalam suatu bacaan. Artinya “merangkum: dan “menyimpulkan” terdapat perbedaan ujud, antara kualitas dan kuantitas, antara yang tersurat dan yang tersirat. TIK No.5 : Dapat menyimpulkan cerita dengan kata-kata sendiri. TIK ini merupakan salah satu siratan materi dari TIU sebagai sasaran perubahan sikap dan kemampuan yang ingin dicapai. TIK No.6 : dapat menceritakan tentang Tuanku Imam Bonjol. Seolah-olah ada satu tujuan lain di luar materi bahasa Indonesia untuk pokok bahasan Membaca, yaitu murid mampu menceritakan. Bercerita adalah bagian dari kegiatan bahasa Indonesia di Sekolah Dasar, tetapi menceritakan tentang Tuanku Imam Bonjol, tidaklah mutlak diperlukan, karena hanya terdapat dalam sekian materi PSPB atau juga IPS. Dalam pengajaran bahasa Indonesia murid dituntut dapat menganalisis bacaan dan bukan menganalisis isi. Dalam TIK No.6 ini jelas bukan lagi mengarah kepada bacaan tetapi isi. Sebaiknya TIK ini dihilangkan karena tidak relevan. Mengamati analisis TIK di atas, maka tercermin bahwa tidak seluruh TIK tersebut dapat diterima. Kita dapat menggunakan beberapa tujuan pokok yang mendesak dicapai sementara hadangan keterbatasan waktu dan volume kegiatan dapat teratasi. Untuk apa mencari kerja membuang energi untuk hal yang tidak menunjang? Ternyata, dari 6 TIK tersebut hanya tiga yang sangat menunjang, sedangkan selebihnya merupakan rumusan yang mungkin lebih baik dituangkan dalam kegiatan belajar mengajar yang dirancang. Rumusan TIK dijabarkan dari TIU dengan azas operasional, artinya jabaran itu harus merupakan gambaran tingkah laku yang tampak dan dapat diukur. Setiap rumusan merupakan gambaran dari satu jenis tingkah laku yang dapat dicapai dalam satu kegiatan belajar mengajar. Oleh karena itu guru diharapkan dapat menjabarkan TIK berdasarkan pokok bahasan dan sub pokok bahasan serta uraian materi yang memang telah ditetapkan dalam kurikulum. Di sampinbg itu, bahan pelajaran yang ditetapkan pun menunjukkan pada kenyataan dan fakta serta sesuai dengan pengetahuan yang sudah dikenal murid. Ada dua hasil belajar yang diharapkan yaitu siswa menguasai bahan yang dipelajari dan sikap murid setelah menguasai bahan tersebut sehingga memberikan nilai positif. Bahasa Indojnesia yang diterapkan di setiap lembaga pendidikan, di samping sebagai ilmu ia juga berfungsi sebagai alat, yaitu alat komunikasi. Mungkin inilah yang disebut ke kompleksan bahasa Indonesia yang menyebabkan munculnya berbagai keluhan bagi sebagian guru. Keluhan ini cukup beralasan, karena guru dituntut selain terampil menerapkan materi pembelajaran Bahasa Indonesia, ia juga diharapkan mampu menggunakan “bahasa” lisan, maupun tulis secara baik dan benar. Kesalahan sekecil mungkin sebaiknya tidak terjadi karena besar kemungkinan akan merugikan murid. Itulah sebabnya faktor bahasa, ditakuti tetapi diperlukan. Ditakuti karena “kaidah” diperlukan karena “alat”.

About these ads

Entry filed under: Uncategorized. Tags: .

Metode Pembelajaran Menulis Syarat Penyusunan Paragraf

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Anda pengunjung ke:

  • 189,525

AGENDA: 31 JANUARI 2011

Pertemuan MGMP Bahasa Indonesia SMP di SMPN 2 Bogor.
Kegiatan: - Bedah SKL Ujian Nasional 2011 (Puspendik)
- Aplikasi Analisis Butir Soal Pilihan Ganda,
- Pengumpulan Media pembelajaran Powerpoint.
(Dimohon Bapak/Ibu membawa Lembar Jawaban Siswa hasil UAS Ganjil, sebanyak siswa yang diajarnya).
Terima kasih

----------------------------------------- Wadah komunikasi Guru Bahasa Indonesia. Kirimkan karya Anda ke email: bindobogor@gmail.com
Rekan-rekan yang akan mengunduh/mendownload, silahkan klik halaman unduh! Rekan Guru Bahasa Indonesia SMP yang memerlukan RPP Bahasa indonesia untuk diadopsi/revisi dapat mendownloadnya di: http://hoesnaeni.wordpress.com/download/
Oktober 2009
S S R K J S M
« Agu   Nov »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Pos-pos Terakhir

Lokasi Pengunjung


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: