Guru

Tuntutan Membaca pada Era Sibernetik
(Dimuat di Harian Pikiran Rakyat, bulan Mei 2008)

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhan yang menciptakan” (Al Quran, 96:1)
Melalui kitab suci Al Quran, Allah telah memerintahkan manusia agar membaca. Dengan membaca manusia akan tahu tentang apa yang belum diketahui sebelumnya. Sebaliknya, tanpa membaca manusia cenderung merasa dirinya cukup. Padahal, sangat banyak rahasia Tuhan yang hanya dapat tersingkap dengan membaca.
Leo Fay (1980), seorang ahli dan pakar pendidikan yang juga mantan
Presiden Internasional Reading Association mengatakan “to read is possess a power
for transcending whatever physical power human can muster”, membaca memiliki kekuatan yang melebihi kekuatan fisik manusia. Selain Leo Fay, Farr (1984), seorang peneliti dalam bidang pendidikan membaca, menggambarkan pentingnya membaca dalam sebuah ungkapan, “Reading is the heart of education”, membaca adalah jantung pendidikan. Maka, pendidikan akan “mati” tanpa membaca.
Kini fase kehidupan manusia masuk pada era sibernetik, era sistem komunikasi dan informasi. Hal itu dintandai dengan surat-surat kabar yang semakin memasyarakat, bahkan internet mulai masuk desa. Siapa pun yang tidak memanfaatkan fasilitas komunikasi dan informasi akan menjadi manusia terbelakang yang hanya fasih mengumbar pengalaman masa lalu.
Pada ranah pendidikan, di era sibernetik, berbagai tujuan pendidikan nasional hanya akan tergapai oleh masyarakat yang literat, yaitu masyarakat yang melek wacana, yang sanggup menganalisis, kemudian membuat sintesis dan evaluasi tentang informasi tercetak. Para pendidik dan siswa didorong untuk berlomba mencari informasi dari berbagai macam sumber yang kesemuanya itu menuntut keterampilan membaca.
Namun, ada yang memprihatinkan mengenai realitas kebiasaan membaca di Indonesia. Di antaranya tergambar pada hasil penelitian IEA (International Association for Evaluation Education Achievement) pada tahun 1999 yang mengungkapkan bahwa kebisaaan membaca siswa Indonesia berada pada peringkat ke-26 dari 27 negara yang diteliti.
Rendahnya kemampuan membaca dapat disebabkan oleh banyak faktor. Faktor siswa, (1) Internal: rendahnya minat dan motivasi membaca, penguasaan bahasa yang rendah, dan tingkat intelegensi siswa, (Eksternal): keadaan sosial ekonomi siswa dan lingkungan yang kurang kondusif untuk peningkatan kemahiran membaca. Faktor guru: kemampuan guru dalam memotivasi siswa dan kemampuan guru mengelola kelas untuk pembelajaran membaca masih kurang.
Bukti lainnya adalah hasil penelitian M. Sarwono, Guru Bahasa Indonesia SMPN 3 Patebon, Kendal Jawa Tengah, terhadap siswanya kelas 3 D pada Tengah Semester I Tahun Pembelajaran 2002/2003. Dari tes Kecepatan Efektif Membaca (KEM) didapat rata-rata KEM sebesar 106,50 kpm (kata per menit). Angka ini masih jauh dari KEM ideal untuk siswa SLTP, yaitu 250 kpm (Standar pada Kurikulum KTSP).
Kita akan tercengang dengan standar tuntutan membaca hasil penelitian Baldridge (1987). Dia mengungkapkan, seseorang dituntut membaca tidak kurang dari 840.000 kata per minggu. Jika KEM yang dimiliki 250 kpm, kegiatan membaca yang harus dilakukan adalah 8 jam per hari. Untuk mencapai target angka tersebut dengan waktu yang lebih diperpendek, caranya tiada lain dengan meningkatkan kecepatan efektif membaca (KEM).
Di antara sekian banyak cara untuk meningkatkan KEM adalah dengan (1) membaca Top Down, bukan Bottom Up dan (2) Teknik Tri Fokus Steve Snyder. Membaca Top Down adalah membaca dengan memusatkan perhatian pada hal-hal yang bisa ditebak maknanya berdasarkan pengalaman atau pengetahuan yang sudah dimiliki. Selama proses membaca, pembaca membuktikan berbagai perkiraan yang muncul dalam pikiran. Bandingkan dengan membaca Bottom Up yang banyak memberi perhatian terhadap kata-kata atau bagian kata yang dibaca tanpa banyak melibatkan informasi yang sudah diperoleh dari pengalaman sebelumnya.
Teknik Tri Fokus memusatkan konsentrasi pandangan mata yang terpusat pada tiga fokus (tiga bagian) baris bacaan. Sebagian dipusatkan di sebelah kiri, sebagian tengah, dan sebagian kanan. Dengan demikian, lompatan pandangan mata akan lebih cepat sehingga berpengaruh pada kecepatan efektif membaca. Teknik Tri Fokus akan efektif apabila dirangkaikan dengan teknik membaca Top Down yang memahami isi bacaan berdasarkan perkiraan-perkiraan.

Tentang Penulis
Nama : Dede Mohamad Riva, S.Pd.
Tempat Tugas : SMP Negeri 3 Kota Bogor,
(Pengajar Bahasa Indonesia)

 Penulis adalah pemenang II Lomba Menulis Karya Tulis llmiah 2007 oleh AGP PGRI Jabar.
 Penulis adalah mahasiswa S2 UHAMKA Jakarta Program Penelitian dan Evaluasi Pendidikan.

3 Komentar Add your own

  • 1. muslik raya  |  Agustus 1, 2009 pukul 6:02 am

    goods

    Balas
  • 2. Poeboe@84  |  Oktober 2, 2009 pukul 1:21 am

    Salam kenal. Kebetulan saya juga guru Bahasa Indonesia di daerah Kalimantan Selatan. Maju terus ya!

    Balas
  • 3. dewi  |  Oktober 16, 2009 pukul 10:27 am

    bapak/ibu….saya mau tanya Rencana Pelaksanaan Pembelajaran SMP kelas VII.mohon balasannya.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


%d blogger menyukai ini: