Siswa

ROMANSA DI SEKOLAH

(Karya Rin Aulia Kelas VIII-G  SMPN 3 Kota Bogor)

“Astri … d!!! seru seorang pria. “Eh Orange. Range … Orange, Astrid pergi.” Tony berseru. Orange terhenyak mendengar perkataan sahabatnya.
“Louis membawa gadis pujaanmu!”
Kepala Orange tiba-tiba terasa berputar kencang, darah seperti membentuk pusaran di ubun-ubun, semua otot menegang, tangan kanan yang mengepal kuat meninju-ninju telapak tangan kiri. Untung saja ada Tony yang bisa sedikit-demi sedikit meredam emosi Orange.
Di saat “panas” seperti itu muncul Crystal. “Yah, lagi-lagi dia,” umpat Orange.
“Halo Orange. Apa kabar? Aku kangen, lo, sama kamu.”
“Aduh, pakai kangen-kangen segala. Emang dia cewek yang tebal muka. Sudah ratusan kali aku bilang aku sudah punya cewek, eh, nga pernah ngerti,” gumam Orange sambil menepuk pundak Tony dan mengajaknya pergi.
“Orange, tunggu aku!” teriak Crystal dengan suara cemprengnya.
“Maaf, aku buru-buru. Ada urusan penting,” jawab Orange sekenanya.
Untunglah bel masuk berbunyi. Artinya, untuk sementara Orange selamat dari kejaran gadis ber-PD tinggi, bermuka tebal, bersuara cempreng, bergigi kawat, berambut ikal, berbibir dewer, dan bla bla bla bla bla.
Di sore hari, seperti umumnya anak-anak kompleks, Orange menghabiskan waktu dengan menonton film, sinetron, atau gosip-gosip selebriti. Mau main, nga punya teman, kecuali kalau ada teman sekolah yang datang. Itulah nasib anak-anak kota yang asing dengan lingkungannya sendiri.
Bosan dengan acara TV, Orange mencoba mengingat-ngingat PR sekolah.
“Buset deh, ada PR Sejarah, mana banyak lagi,” umpat Orange sambil setengah lompat dari kursi. Cepat-cepat ia meraih buku Sejarah. Dia sering gelagapan kalau menghadapi pelajaran Sejarah, sebenarnya, bukan karena pelajarannya. Dia agak giat karena gurunya yang supe…r kile…r. Jangan coba-coba nga ngerjakan PR-nya kalau nga siap dibentak-bentak, diceramahi, dan ditunjuk-tunjuk. Kalau sudah begitu korban, deh, semua teman-teman terkena omelannya juga.
Tapi kali ini ada yang lain. Orange sangat tertarik ketika membaca PR tentang tempat-tempat bersejarah di Bogor. Dia menjadi tahu ada POHON JODOH di Kebun Raya Bogor. “Pohon jodoh? Menarik juga, nih. Pohon jodoh apa, ya?” pikir Orange.
Dengan penuh semangat Orange mencari tahu informasi tentang Pohon Jodoh. Dia baca dengan bolak-balik tulisan pada buku teks Sejarah yang biasanya hanya jadi pajangan. Tidak puas dengan informasi dari buku Sejarah, dia nyalakan komputer. Kemudian, dia mencoba-coba browsing internet. “Gua coba nih yang ini,” dia klik tombol Enter dengan searching “Pohon Jodoh”.
“Ini dia nih yang gua cari. Akhirnya dapat juga,” teriak Orange kegirangan. Dari buku Sejarah dan Internet dia mendapatkan informasi bahwa Pohon Jodoh merupakan salah satu mitos yang dipercaya oleh sebagian masyarakat Kota Bogor. Konon katanya dua orang yang duduk di kursi yang ada di dekat Pohon Jodoh itu, niscaya hati keduanya dapat menyatu.
“Wah, jadi ingat Astrid, nih. Mau nga ya kalau Astrid di ajak ke Pohon Jodoh di Kebun Raya? Mau-nga, mau-nga, mau-nga? Tapi, kata orang-orang bijak, kita tak akan berhasil kalau tidak pernah mencoba. O.k., akan aku coba!!!” sambil melihat langit-langit Orange berpikir keras untuk meyakinkan diri.
Hari Rabu semua siswa VIII G melakukan kegiatan rutin pelajaran Olahraga. Pelajaran ini yang paling ditunggu sebagian besar siswi di kelas Orange. Pelajaran Olahraga berarti bertemu dengan Pak Andri yang tampan dan rupawan. Tapi, Orange tidak begitu cemas, Astrid adalah tipe cewek yang tidak suka dengan orang yang banyak dikejar-kejar orang. Orange ikut senang dengan pelajaran Olahraga karena dia bisa curi-curi kesempatan ngobrol dan cari-cari perhatian Astrid.
Saat melakukan lari pemanasan sebuah insiden kecil secara tidak terduga menimpa Astrid. Dia jatuh dan sedikit terluka. Spontan Orange menolongnya. Dengan bekal plester yang selalu dibawanya, Orange menutup luka Astrid.
“Orange, maaf merepotkanmu. Sekali lagi terima kasih,” ujar Astrid.
Orange tersipu malu, “Kamu tak perlu sungkan. Kita, kan, teman.”
Mereka tidak menyadari kalau semua mata tertuju padanya. Orange dan Astrid baru sadar menjadi tontonan setelah teman-temannya bersorak dan bersiul dengan disertai ledekan. Pak Andri cuma geleng-geleng kepala tampak tak berdaya.
Siapa sangka lambat laun Orange dan Astrid tampak lebih akrab dari sebelumnya. Astrid sering menjadi teman kelompok Orange pada tugas-tugas sekolah. Pada beberapa kesempatan Astrid terlihat berbicara penuh canda dengan Orange. Saat pulang mereka sering saling berpamitan layaknya sepasang kekasih.
Melihat keakraban antara Astrid dan Orange, hati Louis yang Ketua OSIS menjadi kacau. Ia merasa kalah bersaing, lalu pada satu kesempatan dia berbicara kepada Orange,
“Apa kau menyukai Astrid?” tanya Louis sambil menatap mata Orange dengan tajam.
“Ya, benar. Aku menyukainya, benar-benar menyukainya,” jawab Orange dengan lantang.
“Astrid itu milikku. Mengerti?”
“Milikmu atau berharap jadi milikmu?”
Amarah Louis mulai berkecamuk, “Kau itu masih kekanak-kanakan. Sadarlah, kau tidak pantas untuk Astrid.”
“Benarkah? Lihat saja nanti!” tegas Orange sambil menyudahi pembicaraan yang panas itu.
Pada suatu hari yang cerah Louis mengajak Astrid pergi ke sebuah taman yang indah. Di sanalah Louis meluncurkan jurus-jurus rayuan maut kepada Astrid. Tentu saja, rayuannya ditutup dengan kata-kata suci, “Aku cinta padamu.”
Awalnya Astrid tidak menggubris rayuan Louis. Namun, Louis tak putus harapan. Dengan berbagai cara dia mencoba meyakinkan Astrid bahwa dialah pria yang paling pantas untuknya. Akhirnya,
“Mungkin kamu belum tahu kalau aku pun menyukaimu,” ucap Astrid dengan malu-malu.
“Yes.” Kata Louis sambil berteriak dengan mengepalkan tangan kegirangan. Muka Louis yang sebelumnya tegang seketika berubah menjadi berseri-seri.
“Apakah itu artinya kamu menerimaku?” tanya Louis.
Astrid hanya menjawabnya dengan anggukan disertai sunggingan senyum.
Crystal yang secara tidak sengaja menyaksikan peristiwa romantis itu segera melaporkan kejadian tersebut kepada Orange. Tentu saja Orange tidak langsung mempercayai cerita Crystal. Apalagi dia tahu kalau Crystal menyukainya. Siapa tahu cerita tersebut adalah akal-akalan Crystal untuk memecah hubungannya dengan Astrid.
Esoknya Orange mengajak Astrid jalan-jalan ke Pohon Jodoh. Orange berbicara tanpa menyinggung-nyinggung apa yang diceritakan Crystal. Akhirnya, Orang tak tahan juga menahan perasaannya. Maka, ditumpahkanlah segala isi hati dan perasaannya kepada Astrid. Mendengar pengakuan jujur Orange, Astrid jadi salah tingkah.
Di tengah suasana serba salah itu muncullah Louis. Dengan secepat kilat Louis menarik tangan Astrid dan mengajaknya pergi. Sementara itu, Orange hanya bisa ternganga, tanpa sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Ia terdiam di tengah guyuran hujan Kota Bogor yang terkenal ganas. Ia merasa segala usaha yang dikerahkan dengan susah payah sudah berakhir. Yang ada hanya linangan air mata.
Sejak peristiwa itu Orange mulai sering diam. Hubungannya dengan Astrid mulai renggang. Ia mulai mengubur kepercayaannya terhadap mitos-mitos yang sementara ini membuat hidupnya lebih bersemangat.
Di tengah-tengah perjalanan pulang Astrid dan Louis berjalan bersama.
“Astrid, sepertinya akhir-akhir ini kamu tampak agak murung. Kamu sakit, ya?” tanya Louis.
“Nga, aku baik-baik saja. Tapi, beberapa hari ini aku benar-benar berpikir tentang aku, kamu, dan Orange. Gara-gara aku Orange berantem denganmu. Gara-gara aku pula Orange menjadi pendiam. Sahabat-sahabatnya pun bersikap acuh tak acuh terhadapku. Aku benar-benar menjadi serba salah,” papar Astrid penuh perasaan.
“Itu hanya perasaanmu saja, Astrid. Kalau Orange menjadi pendiam, itu karena dia terlalu berharap padamu,” sanggah Louis.
“Tidak bisa begitu Louis, apalagi kamu Ketua OSIS di sekolah ini. Kamu harus dekat dan peduli kepada semua siswa di sekolah kita. Kamu harus menjadi contoh baik bagi semua teman-teman, tidak malah bermusuhan gara-gara seorang wanita,” ujar Astrid dengan lebih bersemangat.
“Jadi menurutmu kita harus bagaimana, minta maaf kepada Orange?” tanya Louis dengan wajah lesu.
“Ya, kita harus minta maaf kepada Orange. Dengan begitu Orange akan lebih bersemangat lagi bersekolah,” jawab Astrid.
Ketika bel pulang berbunyi Astrid mendekati meja Orange
“Range, aku ingin bicara padamu. Bisa?” tanya Astrid penuh harap.
“Mau bicara apa? Langsung aja bicara sekarang!” jawab Orange sekenanya.
“Bukan Cuma aku yang ingin bicara, tapi Louis juga. Jadi kita bicaranya di kantin aja, gimana?” tegas Astrid.
“Louis? Mau ngapain dia bicara sama aku? Bukannya dia sudah berhasil memilikimu?” tanya Orange.
“Yang minta bicara bukan dia, tapi aku. Aku ingin bicara sama kamu dan Louis.”
“Kalau kamu yang meminta, aku baru o.k.”
Di kantin Louis sudah duduk dengan tangan menyangga dagu. Wajahnya penuh kecemasan. Matanya menatap ke arah bunga-bunga di taman, tapi dengan pandangan kosong.
“Sudah lama nunggu, Louis?” ucap Astrid.
Suara Astrid ternyata membuat Louis gelagapan. Lamunannya pecah. Sesaat mulutnya ternganga tanpa sepatah kata pun dapat terucap. “A …a …nga …eh …belum.”
“Sekarang di hadapan kalian, Louis dan Orange, aku ingin mengatakan bahwa aku bukan milik siapa-siapa. Orang tuaku mengingatkan bahwa aku belum cukup siap untuk mengenal cinta. Aku belum punya kekuata jiwa untuk mengendalikan kedahsyatan cinta. Aku ingin konsentrasi dulu pada pelajaran. Perjuanganku untuk meraih cita-cita jadi dokter gigi masih panjang. Mungkin di masa datang ketika kita sudah cukup umur kita akan membicarakan lagi masalah perasaan kita. Saat itulah aku menunggu kalian.”
Louis dan Orange sama-sama tampak kaget. Setelah beberapa saat terdiam, Orange berkata, “Astrid, bolehkah aku minta satu hal padamu?”
“Katakanlah Range!” jawab Astrid.
“Aku minta satu kesempatan saja untuk mengajakmu ke Pohon Jodoh,” pinta Orange.
“Hanya itu?” tanya Astrid.
“Ya, aku hanya akan mengajakmu duduk-duduk di pohon jodoh.”
“O.k.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


%d blogger menyukai ini: